Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pemerintahan

Erma Anggota DPRD Jatim Soroti Ancaman Pengangguran Gen Z di Tengah Bonus Demografi

Penulis : Muhammad Choirul Anwar - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

15 - Feb - 2026, 18:28

Placeholder
Kegiatan reses anggota DPRD Provinsi Jawa Timur (Jatim) Erma Susanti.

JATIMTIMES — Bonus demografi yang selama ini disebut sebagai peluang emas Indonesia dinilai berpotensi berubah menjadi beban sosial,  jika generasi muda tidak dipersiapkan menghadapi disrupsi teknologi dan ketatnya persaingan kerja.

Hal itu menjadi perhatian serius bagi anggota DPRD Provinsi Jawa Timur (Jatim) Erma Susanti. Persoalan ini juga mengemuka saat ia menggelar reses dalam beberapa hari terakhir.

Baca Juga : Nilai Investasi Capai Rp3,11 Triliun, Picu Terciptanya Lapangan Kerja

Perkembangan otomatisasi, robotisasi, dan kecerdasan buatan (AI), menurutnya, telah mengubah lanskap industri secara signifikan. Perubahan itu berdampak langsung pada menyempitnya kebutuhan tenaga kerja manusia, baik di sektor industri formal maupun jasa.

Di sisi lain, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 10 juta pengangguran tercatat di Indonesia dan didominasi generasi Z. Sementara itu, industri disebutnya hanya mampu menyerap sekitar 400 ribu tenaga kerja, sedangkan hampir 1,7 juta lulusan baru setiap tahun memasuki pasar kerja.

Ketimpangan tersebut menjadi alarm serius di tengah fase bonus demografi, ketika jumlah penduduk usia produktif berada pada titik tertinggi. “Masa depan anak muda harus dikreasi dan direbut olehnya sendiri, bukan menyerah pada keadaan,” ujar Erma.

Ia menilai peluang tetap terbuka seiring akses informasi dan teknologi yang semakin luas. Namun, peluang itu hanya bisa dimanfaatkan jika generasi muda memiliki kesiapan mental, literasi yang kuat, serta kemampuan adaptif terhadap perubahan.

“Dalam kondisi ini, akan ada banyak peluang yang bisa dikreasikan anak muda untuk mengembangkan ekonomi,” ucap legislator Fraksi PDIP itu.

Erma juga menyoroti sejumlah kelemahan yang kerap dilekatkan pada Gen Z. Ia menyinggung istilah generasi stroberi—cerdas namun dianggap rentan secara mental dan terbiasa dengan pola instan. Tingginya tingkat stres akibat tekanan sosial dan paparan media digital, serta lemahnya relasi sosial dan kerja tim, dinilai menjadi tantangan tersendiri.

“Kelemahan Gen Z juga terdapat pada literasi yang kurang, karena analog dan sudah terbiasa dengan media visual dalam mengakses informasi waktu cepat, tidak suka membaca, tidak suka ribet, sehingga mudah diprovokasi dan dimanfaatkan,” ungkapnya.

Meski demikian, ia mengakui generasi muda memiliki karakter terbuka dan kepedulian terhadap isu-isu sosial seperti lingkungan, HAM, dan keadilan gender. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi kekuatan ekonomi jika dikelola dengan tepat, terutama melalui industri kreatif yang dipadukan dengan teknologi.

“Kalau Gen Z sadar tentang hal ini, maka otomatis akan bisa mengambil nilai dan bisa mengkreasikannya sebagai kekuatan ekonomi. Jepang berhasil melakukan itu. Industri kreatif adalah dunianya anak muda, dan tentunya berangkat dari kesadaran itu kemudian dikawinkan dengan teknologi,” paparnya.

Baca Juga : DPM UNITRI Minta Presiden Turun ke Ngada NTT Tangani Tragedi Anak Bunuh Diri Karena Kebutuhan Sekolah

Anggota Komisi B ini menegaskan pentingnya karakter kuat agar generasi muda tidak sekadar menjadi pasar digital di tengah arus platformisasi ekonomi.

“Gen Z harus bijak dengan teknologi. Jangan sampai hanya jadi komoditas, misalnya pada produk-produk sampah di tiktok yang hanya menjadi pasar digital maupun pasar game online,” tegasnya.

Melalui forum tersebut, Erma mendorong lahirnya kesadaran kritis dan strategi konkret agar generasi muda mampu menjadikan teknologi sebagai alat pemberdayaan, bukan sekadar konsumsi.

“Masa depan tidak boleh hanya dinanti, tapi harus direbut. Jadi, Gen Z harus meningkatkan literasi, sehingga mempunyai kesadaran kritis dan konstruktif,” tuturnya.

“Saya hanya mengantarkan, karena menurut salah seorang filsuf Comte bahwa generasi sekarang bertugas untuk menyiapkan generasi mendatang. Kalau tidak hancurkan bangsamu,” tandasnya.

Di tengah tekanan angka pengangguran dan perubahan struktur ekonomi global, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa bonus demografi bukan jaminan otomatis menuju kemajuan. Tanpa kesiapan kualitas sumber daya manusia, peluang bisa berubah menjadi persoalan baru.


Topik

Pemerintahan Erma Susanti Anggota DPRD Jatim Pengangguran Gen Z Bonus Demografi



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Nganjuk Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Muhammad Choirul Anwar

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Pemerintahan

Artikel terkait di Pemerintahan