Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Kronologi Lengkap Demo di Polda DIY: Dari Long March hingga Gerbang Roboh

Penulis : Mutmainah J - Editor : Nurlayla Ratri

25 - Feb - 2026, 11:24

Placeholder
Demo di Polda DIY yang berakhir ricuh. (Foto screenshot)

JATIMTIMES - Situasi di Mapolda DIY memanas pada Selasa (24/2) malam setelah ratusan massa mendatangi markas kepolisian tersebut. Aksi yang awalnya berupa unjuk rasa damai berubah ricuh hingga berujung pada perobohan gerbang sisi timur dan aksi vandalisme di tembok luar kantor polisi.

Peristiwa ini menjadi perhatian luas setelah sejumlah video dan foto beredar cepat di media sosial. Dalam rekaman tersebut, terlihat massa mencoret-coret tembok dengan berbagai tulisan protes serta merobohkan pagar pembatas di sisi timur kompleks Mapolda DIY.

Baca Juga : Apresiasi Jogo Gresik, 17 Personel dan 2 Warga Terima Penghargaan dari Kapolres Gresik

Berawal dari Titik Kumpul di Kampus

Dilansir dari berbagai sumber, aksi bermula dari titik kumpul di Kampus UPN Veteran Yogyakarta sekitar pukul 16.30 WIB. Massa yang hadir berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari warga sipil hingga mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Yogyakarta seperti UGM, UNY, dan UPN Veteran Yogyakarta.

Dari lokasi tersebut, massa melakukan long march menuju Mapolda DIY. Sepanjang perjalanan, mereka membawa poster dan menyuarakan tuntutan terkait isu kekerasan aparat yang tengah menjadi sorotan publik.

Setibanya di depan Mapolda DIY, massa langsung bergerak menuju gerbang sisi timur. Aparat kepolisian sebelumnya telah memasang water barrier dan barikade sebagai langkah pengamanan. Namun, jumlah massa yang terus bertambah membuat situasi semakin tegang.

Dorong-dorongan antara massa dan barikade pengamanan tak terhindarkan. Massa yang memadati gerbang timur berusaha mendekat ke area dalam, sementara aparat berupaya mempertahankan garis pengamanan.

Sekitar pukul 18.43 WIB, tekanan dari kerumunan yang semakin solid membuat pintu gerbang sisi timur akhirnya roboh. Suasana semakin ricuh ketika beberapa orang mencoret tembok luar dengan tulisan bernada protes, termasuk slogan yang menyinggung institusi kepolisian.

Aksi ini menandai puncak ketegangan dalam demonstrasi tersebut.

Kericuhan berdampak signifikan terhadap arus lalu lintas di Ring Road Utara. Kemacetan panjang terjadi di sekitar simpang empat Condongcatur hingga kawasan UPN. Kendaraan terpaksa mengantre karena massa meluap hingga ke badan jalan dan melakukan pengalihan arus secara mandiri.

Sejumlah warga sekitar mengaku terkejut dengan situasi yang berlangsung cepat. Aktivitas di kawasan tersebut sempat terganggu, terutama bagi pengendara yang melintas pada jam sibuk sore hingga malam hari.

Situasi yang sudah tegang kembali memuncak sekitar pukul 19.55 WIB. Massa yang sebelumnya menduduki area gerbang timur tiba-tiba berhamburan dan kocar-kacir. Kepanikan itu dipicu suara ledakan keras yang terdengar dari arah kerumunan.

Belum ada keterangan resmi terkait sumber suara tersebut. Namun setelah insiden itu, sebagian massa mulai membubarkan diri dan aparat memperketat pengamanan di sekitar lokasi.

Dipicu Tragedi di Maluku

Salah satu peserta aksi, berinisial UD, menyebut demo di Polda DIY ini dipicu oleh kemarahan terhadap tragedi yang terjadi di Maluku. Ia menyampaikan adanya seorang anak berusia 14 tahun yang tewas setelah kepalanya dihantam helm saat mengendarai sepeda motor.

Menurutnya, peristiwa tersebut memicu gelombang solidaritas dan kemarahan, termasuk di Yogyakarta. Massa aksi menilai kasus kekerasan aparat tidak lagi bisa dianggap sebagai tindakan oknum semata.

Baca Juga : Cuaca Ekstrem di Kota Batu Sebabkan Rumah Warga Rusak dan Pohon Tumbang

“Masyarakat melihat ini sebagai persoalan institusional, bukan lagi kesalahan individu,” ujarnya, dikutip dari Suara.com, Rabu (25/2).

Diketahui, kasus yang dimaksud adalah penganiayaan yang dilakukan oleh anggota Brimob, Bripda MS terhadap seorang anak berinisial AT (14).

Peristiwa penganiayaan itu terjadi pada Kamis (19/2/2026) dini hari. Saat itu, tim patroli Brimob tengah melakukan kegiatan cipta kondisi mengendarai kendaraan teknis di daerah Tual, Maluku Tenggara.

Tim lalu menerima laporan warga bahwa ada pemukulan diarea Tete Pancing. Menuju lokasi, terdapat dua sepeda motor melaju kencang dari arah Ngadi ke Tete Pancing.

Bripda MS lalu mengayunkan helm taktikal sebagai isyarat. Akan tetapi, helm tersebut mengenai pelipis kanan AT yang mengakibatkan tubuhnya terjatuh dari sepeda motor yang ia kendarai.

AT sempat dilarikan ke RSUD Karel Sadsuitubun Langgur. Akan tetapi AT nyawa AT tidak tertolong dan ia dinyatakan meninggal dunia pada pukul 13.00 WIT.

UD juga menyinggung aksi serupa yang pernah digelar pada 29 Agustus 2025 di lokasi yang sama. Ia menilai belum ada perubahan signifikan dalam pembenahan internal maupun perlindungan hak asasi manusia sejak aksi sebelumnya.

Menjelang malam, kondisi di sekitar Mapolda DIY mulai berangsur kondusif meski aparat tetap berjaga di sejumlah titik. Arus lalu lintas perlahan kembali normal setelah massa membubarkan diri.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi terkait jumlah massa, kerusakan fasilitas, maupun tindak lanjut hukum atas peristiwa tersebut.


Topik

Peristiwa demo di polda diy kronologi ricuh



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Nganjuk Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Nurlayla Ratri

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa