Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Membangun Negara dengan Bata: Senapati Kediri dan Pertahanan Awal Mataram

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : A Yahya

11 - Jan - 2026, 11:04

Placeholder
Ilustrasi Senapati Kediri mengawasi pembangunan tembok dan tata ruang Kotagede pada akhir abad ke-16.Visualisasi ini merepresentasikan peran panglima Mataram awal bukan hanya sebagai pemimpin militer, tetapi juga sebagai perancang pertahanan dan ruang negara, sebagaimana tergambar dalam tradisi babad dan rekonstruksi historiografi modern.(Foto: created by JatimTIMES)

JATIMTIMES - Pada akhir abad ke-16, ketika banyak kisah sejarah Jawa dipenuhi narasi penaklukan, ekspedisi militer, dan kemenangan simbolik, Mataram justru pernah berada dalam fase yang jauh dari gemerlap kejayaan. Di balik bayang bayang nama besar Panembahan Senapati, atau Danang Sutawijaya, terdapat satu tokoh yang perannya menentukan, tetapi kerap terpinggirkan dalam historiografi populer, yakni Senapati Kediri. Ia bukan sekadar panglima perang, melainkan arsitek pertahanan, pembaca ancaman, dan penjaga denyut awal negara Mataram yang masih rapuh.

Artikel ini menempatkan Senapati Kediri bukan sebagai figur pinggiran, melainkan sebagai subjek utama dalam momen ketika Mataram memilih bertahan, bukan menyerang. Bata, tembok, dan kota menjadi bahasa politik yang lebih penting daripada tombak dan panji-panji.

Senapati Kediri

Mataram Setelah Madiun: Negara yang Goyah

Baca Juga : Malam Ketika Harun ar-Rasyid Menangis: Nasihat Ulama yang Meruntuhkan Singgasana

Setelah perebutan Madiun, Mataram tidak segera melaju ke fase ekspansi besar. Justru sebaliknya, sebagaimana tercermin dalam Babad Tanah Jawi, muncul kesan bahwa kekuatan Senapati mengalami stagnasi, bahkan kemunduran. Di luar negeri, terutama di mata para penguasa pesisir dan Jawa Timur, hegemoni Mataram mulai dipertanyakan.

Kemalangan ini tidak berdiri sendiri. Putusnya kerja sama dengan Pati, yang menarik diri setelah perkawinan politik Senapati dengan Retna Dumilah dari Madiun, memperlemah jaringan lama yang selama ini menopang Mataram. Dalam lanskap politik Jawa akhir abad ke-16, pernikahan bukan sekadar ikatan keluarga, melainkan perjanjian geopolitik. Ketika satu simpul mengendur, seluruh jaringan kekuasaan ikut bergetar.

Dalam situasi itulah, dukungan dari Kediri, meskipun tidak besar secara kuantitas, menjadi signifikan secara kualitas. Dukungan ini tidak datang dari struktur resmi kekuasaan, melainkan dari para bangsawan yang tersingkir, korban intrik politik Surabaya.

Senapati mataram

Pembelotan Orang Kediri: Politik Dendam dan Kesempatan

Ratu Jalu, yang dalam sumber lain disebut Adipati Pesagi, muncul sebagai figur kunci dalam fase krisis Kediri pasca wafatnya Pangeran Mas, Adipati Kediri. Babad Tanah Jawi mencatat bahwa setelah kematian Pangeran Mas, empat saudaranya, yakni Senapati Kediri, Saradipa, Kentol Jejanggu, dan Kartimasa, tidak melanjutkan kekuasaan, melainkan justru tersingkir dari pusat pemerintahan. Dalam situasi inilah Pangeran Surabaya campur tangan dan mengangkat Ratu Jalu, atau Adipati Pesagi, sebagai penguasa baru Kediri.

Berdasarkan catatan tradisi lokal yang terpelihara di Situs Setono Gedong, Kediri, Ratu Jalu bukanlah bangsawan sembarangan. Ia merupakan putra Panembahan Wirasmoro, seorang tokoh spiritual dan bangsawan buangan yang diyakini sebagai keturunan langsung Sunan Prawoto, raja ketiga Kesultanan Demak. Dengan demikian, Ratu Jalu masih berada dalam jalur nasab dalem Demak, sebuah dinasti Islam yang secara politik telah runtuh, tetapi secara genealogis dan spiritual tetap hidup di wilayah pedalaman Jawa.

Panembahan Wirasmoro sendiri disebut memilih menyingkir dari pusaran konflik berdarah Demak pasca pembunuhan Sunan Prawoto pada 1549. Tragedi perebutan tahta antara Sunan Prawoto dan Arya Penangsang menandai berakhirnya Demak sebagai kekuatan dominan. Namun, bagi sebagian trahnya, kejatuhan Demak tidak berarti lenyapnya legitimasi. Di Kediri, wilayah yang relatif jauh dari pusat konflik pesisir, Panembahan Wirasmoro membangun basis kekuasaan baru yang lebih bercorak spiritual ketimbang politis, sebuah pola yang kelak menjadi ciri khas aristokrasi Mataraman. Menurut tradisi lisan di Setono Gedong, Wirasmoro juga dikenal dengan nama Sunan Bagus.

Setelah wafatnya Panembahan Wirasmoro dan berakhirnya pemerintahan Pangeran Mas, Pangeran Surabaya pada tahun 1586 melantik Raden Djalu sebagai Adipati Kediri. Dalam tradisi lokal, ia juga dikenal dengan sebutan Sunan Demang, menandakan perpaduan antara otoritas politik dan kharisma keagamaan. Pengangkatan ini bukan sekadar pergantian pejabat, melainkan restorasi simbolik trah Demak dalam format baru: bukan sebagai kerajaan besar, melainkan sebagai kekuasaan regional yang berakar pada spiritualitas dan nasab.

Pengangkatan ini bukan sekadar pergantian pejabat, melainkan pemutusan jalur legitimasi lama. Ratu Jalu berasal dari lingkar elite keturunan diaspora. Meskipun ada pendapat yang menyebutnya sebagai paman Pangeran Mas, ia bukan bagian dari empat bersaudara tersebut. Hal ini menjadi petunjuk penting bahwa konflik yang menyusul bukan sekadar perang antarnegara, melainkan perang saudara dalam aristokrasi Kediri sendiri.

Namun demikian, sebutan kekerabatan tersebut, meskipun belum dapat diverifikasi secara pasti, tetap menjadi indikasi bahwa Senapati Kediri kemungkinan masih memiliki hubungan kerabat dengan Panembahan Wirasmoro, putra Sunan Prawoto.

Keputusan Pangeran Surabaya mengangkat Ratu Jalu melukai martabat para pewaris lama. Bagi Senapati Kediri dan saudara saudaranya, hal itu berarti bukan hanya kehilangan kekuasaan, tetapi juga penyingkiran simbolik dari warisan Panjalu Kadiri. Luka inilah yang mendorong mereka membelot dan mencari perlindungan politik kepada Panembahan Senapati Mataram.

Pangeran Surabaya yang dimaksud dalam sumber-sumber tersebut sangat mungkin merujuk kepada Panji Wiryakrama, Raja Surabaya yang berkuasa pada periode 1549–1601. Setelah wafatnya pada 1601, kekuasaan Surabaya dilanjutkan oleh Panembahan Jayalengkara, ayah dari Pangeran Pekik. Jayalengkara inilah tokoh yang pada 1624 berhasil ditaklukkan oleh Sultan Agung, cucu Panembahan Senapati. Rangkaian peristiwa ini menyingkap kesinambungan konflik politik dan militer antara Mataram dan Surabaya yang berlangsung lintas generasi, dari masa pendiri Mataram hingga puncak ekspansi Sultan Agung.

Makam Sunan Bagus

Penegasan Terminologis: Dua Senapati, Dua Nasab, Dua Fungsi Sejarah

Dalam politik Jawa, tersingkir bukan berarti kalah, tetapi berarti mencari pusat kekuasaan baru. Keempat bersaudara itu mengirim utusan bernama Jakarti kepada Senapati Mataram, menyatakan kehendak untuk mengabdi. Bagi Senapati, ini bukan sekadar tambahan pasukan, melainkan kesempatan merebut loyalitas elite Jawa Timur dari dalam.

Untuk menghindari kekeliruan yang berpotensi muncul dalam pembacaan sejarah Mataram awal, perlu ditegaskan sejak awal perbedaan mendasar antara Panembahan Senapati dan Senapati Kediri. Keduanya sama-sama menyandang sebutan senapati, tetapi berasal dari nasab, jalur legitimasi, dan fungsi politik yang sama sekali berbeda.

Panembahan Senapati adalah pendiri Kerajaan Mataram Islam, pemegang wahyu keprabon, dan penguasa tertinggi yang membangun negara.
Sementara Senapati Kediri adalah panglima dan bangsawan Kediri yang kemudian mengabdi kepada Mataram dan gugur dalam tugas militer di Uter.

Dengan kata lain, Panembahan Senapati adalah arsitek negara, sedangkan Senapati Kediri adalah alat negara. Perbedaan ini hanya bisa dipahami dengan menempatkan Panembahan Senapati secara tepat dalam nasab politik, spiritual, dan genealogis Jawa.

Panembahan Senapati lahir dengan nama Raden Bagus Srubut, juga dikenal sebagai Raden Danar atau Raden Danang Sutawijaya. Ia adalah putra Ki Ageng Pemanahan dan Nyai Ageng Sabinah, pasangan elite Jawa yang menyatukan dua jalur utama legitimasi: darah Majapahit dan darah ulama Walisanga.

Setelah wafatnya Ki Ageng Pemanahan pada tahun 1575, Ki Ageng Juru Mertani menghadap Sultan Hadiwijaya, Raja Pajang, untuk melaporkan kematian sang penguasa Mataram sekaligus memohon petunjuk siapa yang layak menggantikan kedudukan tersebut. Sultan Hadiwijaya memerintahkan agar Danang Sutawijaya diangkat sebagai Senapati ing Ngalaga, menggantikan ayahnya sebagai penguasa Perdikan Mataram.

Pengangkatan ini bukan sekadar administratif, melainkan pengakuan politik formal dari Pajang atas kelanjutan kekuasaan keluarga Pemanahan di Mataram.

Dari pihak ayah, Panembahan Senapati memiliki nasab panjang yang menghubungkan Majapahit, elite spiritual, dan elite lokal Jawa Tengah.

Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit VII, menikah dengan Wandansari dan menurunkan Raden Bondhan Kajawan. Raden Bondhan Kajawan menikah dengan Dewi Nawangsih, putri Ki Ageng Tarub II, dan melahirkan Ki Getas Pandowo. Ki Getas Pandowo menikah dengan putri Sunan Mojogung dan melahirkan Ki Ageng Selo, tokoh legendaris yang dalam tradisi Jawa dikenal mampu “menangkap petir” — simbol penguasaan daya kosmis dan legitimasi ilahi.

Ki Ageng Selo menikah dengan putri Ki Ageng Ngerang dan menurunkan Ki Ageng Henis. Dari Ki Ageng Henis lahirlah Ki Ageng Pemanahan, ayah Panembahan Senapati, yang kemudian menjadi sesepuh Perdikan Mataram.

Dengan demikian, Panembahan Senapati adalah pewaris langsung tradisi kekuasaan Jawa pra-Islam yang telah diserap dan diislamkan, bukan pemutus tradisi.

Dari pihak ibu, Panembahan Senapati memperoleh legitimasi keagamaan dan spiritual Islam Jawa.

Nyai Ageng Sabinah adalah putri Ki Ageng Kawisguwo (Pangeran Sobo), keturunan Sunan Giri Prabu Satmoto, salah satu tokoh utama Walisanga. Sunan Giri menikah dengan Nyai Ageng Ratu, putri Sunan Ngampeldenta, dan menurunkan Sunan Giri II atau Sunan Giri Dalem. Dari garis inilah lahir Ki Ageng Kawisguwo.

Ki Ageng Kawisguwo menikah dengan Nyai Ageng Sobo, putri Ki Ageng Selo dari jalur lain, dan dari perkawinan tersebut lahir dua tokoh penting, yakni Nyai Ageng Sabinah dan Ki Ageng Juru Mertani.

Artinya, Panembahan Senapati menyatukan darah Majapahit, Ki Ageng Selo, dan Walisanga dalam satu tubuh, suatu komposisi nasab yang nyaris tak tertandingi dalam sejarah Jawa.

Panembahan Senapati

Dua Versi, Satu Fakta: Membaca Babad secara Kritis

Serat Kandha menyajikan versi yang lebih rumit, dengan tambahan peran Pangeran Purbaya dan desersi dramatis Senapati Kediri. Perbedaan detail antara Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha bukan kontradiksi, melainkan cermin dari ingatan lisan yang ditulis ulang dalam konteks politik berbeda.

Yang penting bukan siapa yang hadir di hari tertentu, tetapi hasil akhirnya:
Senapati Kediri diterima sebagai anak raja dan diberi tanah 1.000–1.500 cacah. Saradipa kelak menjadi Martalaya, tokoh penting dalam perang-perang Mataram berikutnya. Tumenggung Alapalap masih muncul puluhan tahun kemudian.

Artinya, peristiwa 1591 bukan episode kecil, melainkan investasi kader kekuasaan jangka panjang.

Senpai kediri dan senapati mataram

Dari Panglima ke Arsitek: Senapati Kediri dan Kuta Bacingah

Yang membuat Senapati Kediri istimewa bukan semata loyalitasnya, melainkan pergeseran peran strategis yang ia jalani. Alih alih segera memimpin ekspedisi militer terbuka, ia justru ditempatkan untuk mengawasi dan menata pertahanan jantung Mataram di Kotagede, sebuah kutha bacingah, kota berpagar berlapis yang diwujudkan dalam tembok bata putih dan merah yang mengelilingi pusat kekuasaan.

Secara material, sisa sisa sistem pertahanan itu masih dapat disaksikan hingga kini. Benteng Cepuri, tembok keliling yang mengitari kawasan inti Kotagede, berada di wilayah Kelurahan Purbayan, Kecamatan Kotagede, Kota Yogyakarta. Pembangunannya berlangsung sejak akhir abad ke-16, pada masa Sutawijaya atau Panembahan Senapati, dan terus berfungsi hingga periode Sultan Agung.

Baca Juga : Ditinggal ke Tetangga, DapurHangus Terbakar

Dengan demikian, Benteng Cepuri tidak perlu dibaca sebagai karya tunggal seorang raja, melainkan sebagai hasil kerja kolektif Mataram awal, di mana Panembahan Senapati menetapkan arah politik, sementara para panglima, termasuk Senapati Kediri, mengoperasionalkan pertahanan kota secara nyata.

Maka, ketika hari ini kita menelusuri sisa tembok bata Kotagede, yang kita saksikan bukan sekadar peninggalan arsitektur, melainkan jejak sebuah pilihan strategis: membangun negara melalui pertahanan yang tenang dan berlapis. Di sanalah karya Senapati Kediri paling jelas terbaca, bukan dalam kemenangan yang dirayakan, melainkan dalam kota yang sejak awal dirancang untuk bertahan.

Babad Tanah Jawi mencatat bahwa tembok ini tidak memiliki lubang tembak. Ketika Senapati mengkhawatirkan ramalan kehancuran Mataram oleh Jawa Timur, Senapati Kediri dengan sombong menjawab bahwa selama ia hidup, hal itu tidak akan terjadi.

Ucapan ini bukan sekadar keangkuhan pribadi. Ia mencerminkan doktrin pertahanan aktif: tembok bukan untuk bersembunyi, tetapi sebagai simbol kedaulatan dan kontrol ruang.

Penanggalan pembangunan tembok tersebut bervariasi dalam sumber-sumber sejarah: angka tahun 1509 Jawa (1587 M) tercatat pada kelir masjid, tahun 1514 Jawa (1592 M) disebutkan dalam Babad Sangkala, sementara Thomas Stamford Raffles menempatkannya pada tahun 1593.

Semua menunjuk pada satu hal: periode damai pasca-pembelotan Kediri dimanfaatkan untuk membangun negara secara fisik.

Senapati Kediri

Kota Ganda: Kuta Dalem dan Kuta Jaba

Kesaksian De Haan tahun 1623 membuka jendela langka tentang wajah Mataram awal. Ia mencatat keberadaan dua kota besar, Kuta Dalem dan Kuta Jaba, yang dipisahkan oleh sungai, berdinding tinggi, serta dilengkapi pasar dan jalan lebar.

Kuta Dalem hampir pasti adalah Kotagede. Kuta Jaba, yang letaknya kemungkinan berada di kawasan Yogyakarta sekarang, menunjukkan bahwa Mataram sejak awal dibangun sebagai kota berlapis, bukan sekadar keraton tunggal.

Di sinilah relevansi Senapati Kediri sebagai ahli bangunan menjadi nyata. Kota luar bukan aksesori, melainkan zona penyangga, ruang militer, dan simbol kesiapan menghadapi ancaman.

Kota Dalem dan Kota Jaba

Pertahanan sebagai Pilihan Ideologis

Pembangunan tembok, kota ganda, dan penguatan wilayah selatan menunjukkan bahwa Mataram pada fase ini tidak percaya diri untuk menyerang Jawa Timur. Ramalan, dendam sejarah, dan memori kegagalan Demak di masa lalu membentuk kesadaran kolektif bahwa Jawa Timur bukan lawan sembarangan.

Spiritualitas Jawa memandang ruang sebagai entitas hidup. Selatan, Uter, Bayat, dan Wedi, bukan sekadar garis peta, melainkan ruang sakral perbatasan. Maka, menempatkan Senapati Kediri di selatan bukan kebetulan, melainkan pilihan simbolik.

Kutha Bacingah

Gugur di Uter: Harga Pertahanan

Ketika para bupati Brang Wetan berkumpul di Madiun dan bergerak menyerbu Mataram, negara muda itu berada dalam posisi defensif. Pertempuran meletus kembali pada sekitar 1593–1595, dan Mataram membagi kekuatannya. Pangeran Purbaya dikirim membendung serangan dari utara Lawu, sementara Senapati Kediri memimpin pasukan di sisi selatan. Sebelum berangkat, ia menerima badhong, hiasan dada emas, langsung dari Panembahan Senopati, sebuah tanda kepercayaan sekaligus restu simbolik negara.

Di Uter, yang oleh sebagian tradisi diidentifikasi sebagai wilayah Nguter di Sukoharjo atau Uteran di kawasan Madiun, pertempuran menentukan pecah. Di medan inilah sejarah Jawa mencatat duel paling tragis, ketika Senapati Kediri berhadapan langsung dengan pamannya sendiri, Ratu Jalu atau Adipati Pesagi, musuh bebuyutannya sejak konflik Kediri bermula. Serat Kandha menegaskan bahwa pertempuran itu berakhir sama kuat. Dua panglima utama gugur di medan laga. Kemenangan Mataram diraih, tetapi dibayar dengan harga yang sangat mahal.

Kematian Ratu Jalu menandai berakhirnya perlawanan terbuka trah Kediri lama, sementara gugurnya Senapati Kediri mengakhiri karier salah satu tangan kanan terpenting Panembahan Senapati, tokoh yang bukan hanya menaklukkan wilayah, tetapi juga membangun fondasi negara. Atas perintah raja, jenazah Senapati Kediri dimakamkan di Wedi, Tembayat, kawasan keramat Bayat dan Kajoran, berdekatan dengan makam Sunan Bayat. Pemakaman ini bukan sekadar penghormatan militer, melainkan penegasan statusnya sebagai penjaga spiritual sekaligus arsitek awal negara Mataram.

Sementara itu, jenazah Ratu Jalu dibawa kembali ke Kediri dan dimakamkan di Situs Setono Gedong, menandai kepulangannya ke pusat legitimasi lama yang sejak awal menjadi sumber konflik perebutan kekuasaan.

Perang Uter dengan demikian bukan sekadar episode pemberontakan Brang Wetan, melainkan titik temu antara perang saudara, konflik nasab, dan proses pembentukan negara. Di medan itu, Mataram bertahan, tetapi dua figur sentral dari Kediri harus tumbang. Negara selamat, para pembangunnya gugur.

Makam senapati kediri

Makna Gugurnya Senapati Kediri

Kematian Senapati Kediri menandai akhir fase pertahanan personal. Setelah itu, Mataram perlahan beralih pada ekspansi yang kelak disempurnakan oleh Sultan Agung. Namun fondasinya, berupa kota, tembok, dan jaringan elite, telah diletakkan sebelumnya.

Ramalan Senapati bahwa Jawa Timur akan ditaklukkan oleh keturunannya bukan mitos kosong. Itu adalah strategi waktu.

 

Catatan Akhir: Negara yang Dibangun, Bukan Ditaklukkan

Sejarah Jawa kerap memuja penakluk dan kemenangan terbuka, tetapi sering melupakan mereka yang bekerja dalam senyap, para perancang negara. Senapati Kediri berada tepat di persimpangan itu. Ia bukan raja, bukan pemilik wahyu, melainkan seorang panglima yang memahami bahwa kekuasaan tidak selalu dimenangkan di medan laga. Ia membelot dari Kediri, mengikat nasibnya pada Mataram, membangun sistem pertahanan, dan pada akhirnya gugur jauh dari singgasana yang ia bantu kokohkan.

Warisan terbesarnya tidak hadir sebagai prasasti kemenangan atau monumen bertulis nama, melainkan sebagai kota yang dirancang untuk bertahan. Kotagede, pusat awal Mataram, dibangun sebagai kutha bacingah, kota berpagar berlapis yang memadukan tembok bata merah dan putih, parit, pagar alami, serta lanskap air. Fragmen tembok tua, pola ruang yang tertutup, dan sisa sistem air yang masih dapat dilacak hingga hari ini bukan sekadar artefak arsitektur, melainkan jejak strategi militer politik. Di sanalah tangan Senapati Kediri bekerja, membangun pertahanan yang tidak mencolok, tetapi efektif, serta benteng yang tidak menantang, tetapi menguras tenaga musuh.

Mataram tidak lahir dari satu kemenangan besar yang spektakuler. Ia tumbuh dari keputusan sunyi untuk membangun tembok ketika orang lain sibuk mengasah senjata, dari strategi mengikat loyalitas alih-alih menghancurkan kota, dari kesabaran mengunci ruang dan waktu lawan. Dalam bata merah dan putih Kotagede, yang masih berdiri meski terfragmentasi, negara Jawa terbesar abad ke-17 mulai menemukan bentuknya.

Makam Wedi senapati kediri

Dan kisah ini bukan dongeng, bukan legenda yang mengambang tanpa jejak. Makam Senapati Kediri benar-benar ada. Ia dimakamkan di Wedi, Klaten, dalam kawasan pemakaman keramat Tembayat, tidak jauh dari makam Panembahan Agung Kajoran, salah satu pusat spiritual terpenting dalam tradisi Islam-Jawa. Penempatan ini menegaskan bahwa Senapati Kediri dipandang bukan semata sebagai panglima perang, melainkan sebagai figur yang berada dalam orbit spiritual negara.

Keberadaan makam ini juga mengikat langsung kisah kematiannya dengan ruang geografis yang nyata. Uter, lokasi gugurnya Senapati Kediri dalam pertempuran, berada di wilayah Sukoharjo, sebuah kawasan yang secara spasial berdekatan dengan Tembayat. Kedekatan ini memperlihatkan bahwa narasi perang, wafat, dan pemakaman Senapati Kediri membentuk satu lanskap sejarah yang utuh, bukan mitos yang berpindah pindah, melainkan peristiwa yang berakar kuat pada tanah Mataraman. Jarak antara Nguter dan Wedi hanya sekitar 41,8 kilometer.

Bangunan makamnya sederhana. Dari luar menyerupai rumah biasa. Di dalamnya terdapat dua pusara. Makam di sisi kiri diyakini sebagai makam Senapati Kediri. Tidak ada kemegahan, tidak ada narasi heroik yang dipahatkan. Justru di situlah letak kejujurannya. Negara yang ia bantu bangun tidak membutuhkan monumen baginya, karena arsitektur ketahanan yang ia rancang telah berbicara lebih panjang dari nama.

Dengan demikian, karya Senapati Kediri masih hidup. Bukan sebagai nama jalan atau makam megah, melainkan sebagai logika pertahanan yang memungkinkan Mataram bertahan, tumbuh, dan pada waktunya menaklukkan tanpa harus selalu mengandalkan perang terbuka. Ia gugur, tetapi kota yang ia rancang tetap berdiri. Dan di sanalah sejarah yang kerap luput dari sorotan justru berbicara paling jujur.


Topik

Peristiwa senapati kediri sejarah jawa penguasa jawa



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Nganjuk Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

A Yahya