Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Kesehatan

Terlalu Lama Rebahan Jadi Ancaman, Pakar Okupasi Ingatkan Risiko Penyakit Kronis Mengintai

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : A Yahya

05 - Aug - 2026, 18:53

Placeholder
Ilustrasi seseorang yang kerap beraktivitas rebahan, dimana kebiasaan itu memiliki dampak buruk (ist)

JATIMTIMES – Duduk berjam-jam di depan komputer, terlalu lama menatap layar ponsel, hingga menghabiskan waktu dengan rebahan tanpa aktivitas fisik perlahan menjadi pola hidup yang dianggap biasa. Padahal, kebiasaan tersebut kini dinilai sebagai salah satu pemicu meningkatnya berbagai penyakit kronis di usia produktif.

Fenomena gaya hidup sedentari atau sedentary lifestyle semakin banyak ditemukan seiring perubahan pola kerja, belajar, dan aktivitas masyarakat yang bergantung pada teknologi digital. Kemudahan yang ditawarkan berbagai layanan memang membuat banyak pekerjaan selesai lebih cepat, tetapi di sisi lain justru mengurangi intensitas gerak tubuh setiap hari.

Baca Juga : Dukung Peningkatan Produksi, Mas Dhito Kembali Salurkan 216 Bantuan Pertanian kepada Petani 

Pakar kedokteran okupasi sekaligus dosen Fakultas Kedokteran salah satu kampus swasta di Malang, dr. Rubayat Indradi, MOH., mengatakan seseorang perlu mulai mengevaluasi kebiasaan hariannya. Menurutnya, banyak orang tidak menyadari bahwa sebagian besar waktu dalam sehari dihabiskan dalam posisi duduk atau berbaring.

"Silakan menganalisis diri sendiri per 24 jam, berapa jam Anda duduk di ruangan atau rebahan, yang mana itu adalah contoh nyata sedentary work yang berisiko memunculkan obesitas, diabetes, hingga hipertensi," ujarnya.

Ia menjelaskan, minimnya aktivitas fisik membuat tubuh mengeluarkan energi dalam jumlah yang sangat sedikit. Kondisi tersebut dalam jangka panjang menjadi pintu masuk berbagai penyakit degeneratif, mulai dari obesitas, diabetes melitus, hingga hipertensi yang kini semakin banyak menyerang kelompok usia produktif.

Menurut Rubayat, perkembangan teknologi digital juga ikut membentuk kebiasaan masyarakat yang semakin pasif. Berbagai aktivitas yang sebelumnya membutuhkan pergerakan kini dapat dilakukan hanya melalui telepon genggam, mulai dari memesan makanan hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Kecanggihan teknologi sekarang itu bikin kita jadi malas, apa-apa delivery, ya mager. Kenapa tidak diubah habit-nya itu, cobalah jalan kaki dan jangan takut berkeringat," katanya.

Ia menilai kemudahan tersebut tidak seharusnya menghilangkan kebiasaan bergerak. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki untuk menempuh jarak dekat dapat menjadi langkah awal menjaga kesehatan sekaligus mengurangi dampak buruk gaya hidup sedentari.

Selain menjaga kesehatan fisik, aktivitas gerak juga berpengaruh terhadap kondisi psikologis. Tubuh yang aktif dinilai lebih mampu mengendalikan stres dibandingkan mereka yang menjalani aktivitas monoton tanpa diselingi pergerakan.

Baca Juga : OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Nasional Tetap Terjaga di Tengah Gejolak Ekonomi Global

Karena itu, Rubayat mendorong masyarakat memiliki aktivitas fisik yang dilakukan secara konsisten sebagai bagian dari rutinitas harian. Peregangan ringan saat bekerja maupun belajar juga perlu dilakukan agar tubuh tidak terus-menerus berada dalam posisi statis.

"Itulah pentingnya kalian punya hobi fisik. Jangan jempolnya saja yang olahraga, hanya jempolnya saja yang sehat, mulailah dari hal-hal kecil seperti stretching setiap 2 jam sekali atau berjalan kaki," tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa menjaga kesehatan tidak selalu harus dimulai dengan olahraga berat. Mengurangi waktu menatap layar, membiasakan berjalan kaki, berdiri secara berkala, hingga melakukan peregangan setiap dua jam merupakan langkah sederhana yang mampu menekan risiko berbagai penyakit akibat gaya hidup sedentari.

Menurutnya, investasi kesehatan di era modern tidak hanya bergantung pada kemajuan teknologi, tetapi juga pada kesadaran individu untuk tetap mengaktifkan fungsi gerak tubuh. Semakin aktif seseorang bergerak, semakin besar pula peluang menjaga produktivitas dan kualitas hidup dalam jangka panjang.


Topik

Kesehatan rebahan bahaya rebahan rubayat indradi



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Nganjuk Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

A Yahya

Kesehatan

Artikel terkait di Kesehatan