Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Ketika Rasulullah Meminta Hak Qisas kepada Sahabat yang Tak Sengaja Menginjak Kakinya

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : A Yahya

17 - Mar - 2026, 10:54

Placeholder
Ilustrasi dalam peristiwa kecil sekalipun, Rasulullah menunjukkan standar moral yang sangat tinggi (ist)

JATIMTIMES – Keteladanan Nabi Muhammad SAW tidak hanya tercermin dalam dakwah dan kepemimpinannya, tetapi juga dalam sikap beliau yang sangat menjunjung tinggi keadilan dan kehati-hatian terhadap sesama manusia. Bahkan dalam peristiwa kecil sekalipun, Rasulullah menunjukkan standar moral yang sangat tinggi.

Sebuah kisah yang diriwayatkan para ulama menggambarkan kejadian yang terjadi setelah pasukan Muslim kembali dari Ekspedisi Tabuk. Saat itu Rasulullah SAW memimpin perjalanan pulang bersama para sahabat yang menunggang unta di padang pasir.

Baca Juga : Bacaan Takbir Idulfitri Dibaca Sampai Kapan? Ini Batasannya

Di tengah rombongan terdapat seorang sahabat bernama Abu Rahal al Ghifari. Dalam perjalanan itu ia tampak sangat kelelahan hingga tertidur di atas untanya. Tanpa disadari, hewan tunggangannya berjalan terlalu dekat dengan unta yang ditunggangi Rasulullah SAW.

Karena posisi yang sempit dan Abu Rahal sedang terlelap, kakinya tiba tiba bersenggolan dengan sisi unta Nabi. Bahkan tanpa sengaja kakinya menginjak kaki Rasulullah SAW.

Rasulullah pun mengaduh karena rasa sakit tersebut. Dengan tongkat yang beliau bawa, Nabi kemudian menyentuh kaki Abu Rahal agar ia terbangun dan tidak lagi menginjaknya.

Abu Rahal tersentak kaget ketika sadar dari tidurnya. Betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa kakinya telah menginjak kaki Rasulullah SAW. Perasaan bersalah langsung menyelimuti hatinya. Ia segera menjauh dari rombongan dan memilih berjalan di bagian belakang pasukan.

Sepanjang perjalanan, kegelisahan menyelimuti dirinya. Ia merasa sangat takut telah menyakiti Rasulullah. Dalam hatinya muncul berbagai kekhawatiran.

Bagaimana jika Rasulullah tidak ridha kepadanya. Bagaimana jika Allah menurunkan teguran atas perbuatannya. Ia merasa sangat menyesal karena kelalaiannya yang terjadi akibat kelelahan dan tangis yang sebelumnya menimpanya.

Abu Rahal sendiri termasuk sahabat yang ikut berjuang dalam ekspedisi Tabuk dengan membawa sejumlah hewan ternak sebagai bekal pasukan. Hewan tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan makanan dan susu para prajurit selama perjalanan.

Ketika rombongan berhenti untuk beristirahat, Abu Rahal memilih menggembalakan kambing kambingnya agak jauh dari tempat pasukan berhenti. Ia sengaja menjauh karena merasa malu dan takut bertemu dengan Rasulullah SAW.

Namun ternyata Rasulullah justru menanyakan keberadaannya. Salah seorang sahabat memberitahukan kepada Abu Rahal bahwa Nabi sempat mencari dirinya.

Kabar itu membuat Abu Rahal semakin cemas. Ia merasa tidak mungkin menghindar lebih lama. Ketika rombongan kembali berhenti untuk beristirahat, ia memberanikan diri datang menghadap Rasulullah SAW.

“Wahai Abu Rahal, dari mana saja engkau. Aku tadi mencarimu,” kata Rasulullah SAW.

Dengan penuh rasa bersalah, Abu Rahal segera menjelaskan apa yang terjadi.

“Wahai Rasulullah, aku tidak sengaja menginjak kakimu. Saat itu aku kedinginan dan tertidur di atas unta sehingga tidak sadar bersenggolan denganmu. Aku memohon agar engkau memaafkanku,” ujarnya dengan penuh penyesalan.

Baca Juga : Cara Membuat Stiker atau Twibbon Lebaran 2026 di ChatGPT, Cocok Dibagikan untuk Jelang Hari Raya

Mendengar penjelasan tersebut, Rasulullah SAW langsung menenangkannya. “Aku telah memaafkanmu,” jawab Nabi.

Abu Rahal merasa lega mendengar perkataan itu. Namun ternyata Rasulullah masih melanjutkan penjelasannya.

Beliau berkata bahwa ketika membangunkan Abu Rahal, beliau menyentuhnya dengan tongkat yang dipegangnya. Karena itu Rasulullah menawarkan hak qisas kepada sahabatnya tersebut.

“Ambillah tongkatku ini dan lakukanlah hal yang sama kepadaku sebagaimana aku menyentuhmu tadi,” kata Rasulullah SAW.

Sikap ini menunjukkan betapa Rasulullah sangat menjunjung tinggi prinsip keadilan, bahkan terhadap peristiwa yang tampak sepele. Beliau tidak ingin ada tindakan yang berpotensi menyakiti orang lain tanpa memberi hak balasan yang setimpal.

Mendengar tawaran tersebut, Abu Rahal justru menolak. “Aku tidak akan melakukannya wahai Rasulullah. Aku telah memaafkan semuanya,” kata Abu Rahal.

Rasulullah SAW tersenyum mendengar jawaban itu. Setelah suasana kembali tenang, beliau kemudian berbincang dengan Abu Rahal tentang keadaan kabilahnya yang dikenal setia mendampingi perjuangan Nabi.

Dalam percakapan itu Rasulullah menanyakan beberapa anggota kabilah yang tidak ikut dalam ekspedisi Tabuk. Beliau bahkan mampu mengingat ciri ciri fisik sebagian anggota suku tersebut dengan sangat detail.

Peristiwa ini menjadi salah satu gambaran tentang betapa luhur akhlak Rasulullah SAW. Beliau bukan hanya seorang pemimpin umat, tetapi juga sosok yang sangat adil, rendah hati, dan peka terhadap hak orang lain.

Allah SWT sendiri menegaskan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad dalam Alquran. "Dan sesungguhnya engkau benar benar memiliki akhlak yang agung." QS Al Qalam ayat 4.


Topik

Pendidikan Muhammad nabi Muhammad Saw abu rahal tabuk kisah abu rahal



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Nganjuk Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

A Yahya

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan