Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Misteri Freemason di Malang Diduga Terbaca dari Simbol di Kuburan Londo dan Gedung Loji Tuap

Penulis : Hendra Saputra - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

18 - Mar - 2026, 06:57

Placeholder
Diduga jejak Freemason di Malang (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Kompleks Tempat Pemakaman Umum (TPU) Nasrani Sukun yang lebih dikenal masyarakat sebagai Kuburan Londo menyimpan banyak kisah sejarah dari masa kolonial Belanda. Lokasi pemakaman yang berada di Jalan S. Supriadi, Kecamatan Sukun, Kota Malang itu menjadi tempat peristirahatan terakhir sejumlah tokoh penting pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Di antara makam-makam tua yang berada di kawasan tersebut, terdapat beberapa pusara yang diduga memiliki keterkaitan dengan organisasi Freemason. Jejak itu terlihat dari simbol-simbol tertentu yang terukir pada batu nisan.

Baca Juga : Liburan ke Timur Tengah Batal? Ini 6 Destinasi Alternatif yang Tak Kalah Menarik

Dikutip dari berbagai sumber, Freemason dikenal sebagai organisasi persaudaraan yang berkembang di Eropa sejak berabad-abad lalu. Kelompok ini memiliki misi yang berfokus pada nilai moral, persaudaraan, serta pemikiran intelektual. Namun karena sifatnya yang eksklusif dan tertutup, Freemason kerap diliputi berbagai stigma dan kontroversi.

Dalam sejarahnya, anggota Freemason banyak berasal dari kalangan ilmuwan, akademisi, pengusaha, hingga tokoh penting dalam pemerintahan dan masyarakat.

Sebagai kota yang pernah menjadi pusat aktivitas kolonial Belanda, Malang tidak luput dari pengaruh organisasi tersebut. Salah satu jejaknya dapat ditemukan di kompleks Kuburan Londo di kawasan Sukun.

Pada beberapa makam tua di area tersebut, tampak simbol yang kerap diidentikkan dengan Freemason. Salah satu yang paling dikenal adalah lambang jangka dan penggaris siku. Selain itu, terdapat pula ukiran daun akasia yang juga sering dikaitkan dengan simbolisme organisasi tersebut.

Simbol-simbol itu ditemukan di sejumlah pusara, di antaranya makam Pieter Allaries serta makam Dr. P.A.A.F. Eyken bersama istrinya.

Dr. Eyken diketahui merupakan seorang dokter yang bekerja di bidang farmasi. Ia pernah bertugas sebagai apoteker di Rumah Sakit Militer di Malang. Selain itu, ia juga sempat menjabat sebagai direktur De Voskapotheek pada masa pemerintahan Gemeente Malang.

Di samping makam Dr. Eyken juga terdapat pusara sang istri yang tidak mencantumkan nama secara jelas. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan tradisi Freemason yang dikenal menjaga kerahasiaan identitas, meski di sisi lain menjunjung tinggi kebebasan berpikir.

Baca Juga : Kalender Jawa Weton Sabtu Pahing Wuku Kulawu: Hari Baik Memulai Pekerjaan

Jejak keberadaan Freemason di Kota Malang tidak hanya ditemukan di kompleks pemakaman. Beberapa bangunan bersejarah juga diyakini memiliki keterkaitan dengan organisasi tersebut.

Salah satunya adalah bangunan di kawasan Klodjen Kidoelstraat yang kini berada di Jalan Aris Munandar. 

Gedung ini diketahui pernah menjadi loji Freemason pertama di Kota Malang. Loji tersebut dibuka pada 1 April 1914 dan menjadi tempat berkumpul anggota Freemason di wilayah Malang pada masa kolonial.

Keberadaan makam dan bangunan bersejarah itu menjadi penanda bahwa Kota Malang pernah menjadi salah satu titik aktivitas kelompok intelektual internasional pada masa lampau. Hingga kini, jejaknya masih dapat ditelusuri melalui simbol-simbol yang tersisa di berbagai sudut kota.


Topik

Peristiwa Misteri Freemason freemason Kota Malang Kuburan Londo makam sukun Gedung Loji Tua



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Nganjuk Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Hendra Saputra

Editor

Sri Kurnia Mahiruni