Kisah Para Penyihir di Samro' Rusia yang Masuk Islam, Bermula Dari Rasa Kagum | Nganjuk TIMES

Kisah Para Penyihir di Samro' Rusia yang Masuk Islam, Bermula Dari Rasa Kagum

Feb 02, 2021 10:08
Muslim Rusia (Foto:  Russia Beyond)
Muslim Rusia (Foto: Russia Beyond)

INDONESIATIMES- Para penyihir di Samro' Rusia memutuskan untuk memeluk agama Islam kala itu. Lantas seperti apa kisahnya?  

Melansir melalui channel YouTube Penuntut Ilmu, kala itu, Umar bin Adul Aziz pernah kedatangan seseorang dari Samro' yang merupakan wilayah Rusia. Kebetulan saat itu wilayah Samro' diserang oleh Qutaibah bin Muslim.  

Baca Juga : Bukan Hanya Sinetron, Kisah Jin dan Jun Ternyata Nyata dan Dialami Ahli Ibadah ini

Qutaibah bin Muslim merupakan salah satu panglima perang yang terkenal dalam Islam. Ia datang tidak untuk menawarkan Islam, tidak juga menawarkan jizyah upeti. Namun ia justru langsung menyerang pada opsi ketiga yang dalam Islam tidak diperbolehkan.  

Saat itu Qutaibah bin Muslim melihat jika Samro' ini adalah wilayah yang sangat strategis. Jika, takluk dalam Islam, wilayah sekitarnya akan takluk semua. 

Hingga akhirnya beliau nekat ijtihad, setalah salat subuh menyerang kaum di wilayah Samro'. Namun, serangan itu justru berhasil menaklukan semua kaum yang ada di Samro'.  

Diketahui, ternyata orang-orang di wilayah tersebut mayoritas dikuasai oleh para penyihir. Mereka pun merasa terganggu karena wilayahnya direbut oleh Islam.  

Mulailah mendirikan hakim, dan pengadilan hukum-hukum agama Islam mulai diterapkan. Para penyihir itu juga didakwahi dengan cara Silam.  

Namun yang memilih tidak masuk Islam dibiarkan saja. Hingga akhirnya para penyihir-penyihir itu mengutus satu anak muda.  

"Kau pergi ke sana, kami dengar pemimpin muslim ini adil namanya Umar bin Abdul Aziz di negeri Syam, pergi ke sana datang, sampaikan kalau Qutaibah bin Muslim ini, panglima perangnya tidak tawarkan Islam kepada kita tidak juga tawarkan jizyah dan memerangi kita langsung", perintah penyihir itu.  

Penyihir lalu melanjutkan, "Coba tanyakan mungkin ada sesuatu yang bisa dia berikan kepada kita," lanjutnya.  

Hingga akhirnya pemuda itu sampai di negeri Syam sampai ia menemukan tempat besar, luas dan bagus. Ia berkata "Mungkin ini tempatnya istana raja" dan pemuda itu masuk.  

Lalu di ruangan pertama ia menemukan sebuah air mancur dimana banyak kaum muslim yang mencuci tangan dan wajah mereka. Pemuda itu pun lantas mengikuti mereka untuk mencuci tangan dangan wajahnya.  

Lalu mereka berbondong-bondong masuk ke ruangan selanjutnya yang lebih mewah yakni sebuah masjid yang ia kira adalah Istana Khalifah. Pasalnya pemuda itu bukanlah seorang muslim sehingga ia tidak memahami.  

Hingga kaki pemuda itu tersentuh dengan satu orang yang sujud dan kemudian orang itu terbangun dari sujudnya dan salam.  

Orang itu lantas bertanya "kenapa kau injak saya? kau nggak lihat?.

"Saya nggak tahu, kalian ini lagi ngapain?" tanya pemuda itu. Orang itu lantas mengatakan jika ruangan tersebut adalah masjid dan mereka kaum muslim.  

"Kami sedang salat, kamu siapa?" tanya orang itu. Pemuda itu pun lantas menceritakan asal-usulnya.  

Hingga akhirnya orang tersebut mendakwahi pemuda itu tentang Islam dan dia tertarik dengan Islam. Pemuda utusan penyihir dari Samro' itu lantas memutuskan untuk masuk Islam.  

Kendati demikian, ia masih tetap menyampaikan amanah kepada Amirul mukminin khalifah. Lalu keduanya berjalan hingga akhirnya sampai di bangunan tua dari tanah liat.  

Lalu keduanya melihat seorang pria berjenggot putih yang sedang menempel temboknya dengan tanah liat. Orang itu lantas mengatakan kepada si pemuda jika itulah Umar bin Abdul Aziz.  

Pemuda itu sempat tak percaya jika yang ia lihat adalah Umar bin Abdul Aziz.  Pemuda itu lantas melihat pintu Umar bin Abdul Aziz terbuka sedikit. Ia melihat seorang ibu yang membuat adonan roti.  

Baca Juga : Jejak Karir Abu Janda, Dulu Karyawan Kini Jadi Buzzer, Segini Bayarannya

Lalu tiba-tiba saja dari kejahuan ada anak-anak yang datang sambil menangis dan mengatakan "ayah ibu". Kepalanya anak itu berdarah lalu pemuda itu pun berkata "kayaknya ini anaknya khalifah menangis".  

Tak lama kemudian datang seorang ibu di belakang anak yang sedang menangis yang juga memegang anaknya dengan wajah yang pucat lalu berkata Wahai Amirul Mukminin berkata kepada "Maafkan anak saya". Maka si mualaf ini bilang "selama ini kami selalu mendengar keadilannya khalifah muslim ini, sekarang saya mau buktikan ini anak khalifah kepalanya bocor berdarah dan yang memukul adalah anak masyarakat biasa".  

Umar bin Abdul Aziz pun balik arah lalu berkata "Ada apa wahai anakku", ternyata anaknya mengatakan "saya salah ayah, saya sempat bermain sama anak ini kemudian saya lempar-lemparan batu, saya lempar dia, dia lempar saya akhirnya saya lempar dia nggak kena dia lempar saya kena kepala saya berdarah," cerita si anak.  

Kata Umar "Kalau begitu kamu yang salah". Dia bilang "Iya saya yang salah ayah".  

Umar bin Abdul Aziz lantas mengatakan kepada seorang ibu itu jika anaknya tidak bersalah. Lalu Umar bin Abdul Aziz bertanya apakah anak ibu itu sudah terdaftar athaya. Ibu itu menjawab jika anaknya belum terdaftar.  

Umar bin Abdul Aziz pun memanggil sekrtarisnya untuk memberikan athaya kepada anak itu. Bahkan ia meminta untuk mengiklankan siapaun yang belum terdaftar athaya anaknya, daftarkan segera dan bisa mengambil haknya kapan pun.  

Hingga akhirnya pemuda asal Samro' tadi datang dan mengenelakan dirinya. "Baik, ada hajat apa?" tanya Umar bin Abdul Aziz.

Fulan pun menceritakan yang awalnya bukan seorang muslim lalu memutuskan untuk menjadi mualaf. Hingga akhirnya Fulan menyampikan pesan dari bangsa penyihir tadi terkait kedatangan Qutaibah bin Muslim yang tanpa menawarkan Islam, tanpa menawarkan jizyah dan langsung menyerang.  

"Baik, ada hakim yang saya sudah tunjuk di wilayah Samro, sudah sampai kepada saya beritanya dan saya izinkan mereka meletakkan peradilan di sana perundang-undangan, kalau betul apa yang kamu katakan maka antarlah surat ini," ujar Umar bin Abdul Aziz.  

Dalam surat ia meminta agar perkara penduduk Samro' diselesaikan dengan syariat Islam. Pemuda itu pun lalu pulang dan membawa surat itu.  

Namun, saat tiba pemuda ini masih menyembunyikan muslimnya. Ia lantas menemui hakim Samro' untuk memberikan surat tersebut.  

Hakim itu pun meminta masyarakat Samro' untuk berkumpul dan tokoh masyarakat yakni penyihir-penyihir. "Ada masalah apa kalian wahai penduduk Samro'?"

Penyihir-penyihir itu lantas menjawab "ini panglima perang yang terhormat masuk ke wilayah kami tanpa tawarin Islam, kami dengar agama kalian harus tawarin dulu agama kalian, kalau nolak baru jizyah, kalau nolak baru diperangain, tapi kami tidak ditawarin," ujar penyihir itu.

Panglima perang itu pun lantas mengatakan jika wilayah Samro' tidak perlu diberikan opsi karena dinggap sangat luas. Sehingga akan mudah untuk ditaklukan semua. Lalu hakim memutuskan jika langkah Panglima Perang ini salah dan memerintahkan bagi orang-orang Islam yang ada di Samro' agar keluar dari wilayahnya.

Lalu kembali menawarkan Islam dulu, jiziyah, kalau tidak mau baru perang.  

Tak lama kemudian muncul suara kuda, unta, laki-laki, perempuan, anak keluar semua. Pemuda tadi pun ingin mendakwahi kaumnya sekalian dan mengatakan "Apakah kalian lihat bagaimana keadilan mereka?" Mereka pun lantas mengatakan jika mereka belum pernah melihat ada manusia seperti itu.  

Pemuda itu pun lalu mengatakan jika saat ia bertemu Umar bin Abdul Azis sudah masuk Islam karena kagum dengan agama mereka. Hingga akhirnya mereka semua membaca syahadat. 

Topik
penyihir samro rusia kisah penyihir yang memeluk islam kisah penyihir samro peluk islam

Berita Lainnya