Deretan Ulama Besar Meninggal Dunia Awal 2021, Benarkah Tanda Kiamat Sudah Dekat? | Nganjuk TIMES

Deretan Ulama Besar Meninggal Dunia Awal 2021, Benarkah Tanda Kiamat Sudah Dekat?

Jan 16, 2021 15:31
Syekh Ali Jaber (Foto: BeritaSatu.com)
Syekh Ali Jaber (Foto: BeritaSatu.com)

Awal tahun 2021, kita sudah dikejutkan dengan berbagai peristiwa. Sebut saja bencana alam, virus Covid-19 yang tak kunjung usai, hingga kabar kematian para tokoh.  

Salah satu kabar kematian tokoh yang cukup mengejutkan ialah ulama besar Syekh Ali Jaber. Ulama asal Madinah, Arab Saudi, itu meninggal dunia Kamis (14/1/2021).  

Baca Juga : NU dan Barisan Kader Gus Dur Dukung Penunjukan Komjen Listyo sebagai Calon Kapolri

Keesokan harinya, Jumat (15/1/2021) disusul dengan kabar duka yakni Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf.

Jenazah Habib Ali diketahui dimakamkan hari ini Sabtu (16/1/2021) di Kalibata. Ia meninggal di Rumah Sakit Purwakarta, Jawa Barat. 

Tak hanya kedua ulama tersebut, ternyata banyak ulama besar Indonesia yang meninggal dunia di awal tahun 2021.  

Tercatat ada 12 ulama besar Indonesia yang meninggal dunia Januari 2021 ini. Siapa saja mereka? Berikut daftarnya:

1. Habib Ja’far bin Muhammad Al Kaff Kudus (1 Januari 2021)

2. KHR Muhaimin Asnawi – PP Al Asnawi Magelang (1 Januari 2021)

3. KHR Abdullah Nachrowi – PP Ash-Shogiri Bogor (2 Januari 2021)

4. KHR Muhammad Najib Abdul Qodir Munawwir – PP Al Munawir Krapyak (4 Januari 2021)

5. Drs M.Sai MHI – PP Nurul Yakin Malaka (5 Januari 2021)

6. KH Muhammad Nuruddin A.Rahman – PP Al Hikam Bangkalan (9 Januari 2021)

7. Habib Abubakar bin Salim Al Hamid Bondowoso – (9Januari 2021)

8. KH.Zainuddin Badrus – PP Al Hikmah Kediri (10 Januari 2021)

9. KHAA. Yasin Asmuni – PP Hidyatut Thullab (11 Januari 2021)

10. DrsHH Ibnu Hazen – LTMNU (12 Januari 2021)

11. Syekh Ali Saleh Mohammed Ali Jaber (14 Januari 2021)

12. Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf (15/1/2021)

Wafatnya para ulama itu lantas dijadikan indikasi jika pertanda kiamat sudah dekat.  

Rasulullah SAW bersabda:

Baca Juga : Langgar PPKM, Satpol PP Kota Malang Tutup Cafe Kriwul

إِنَّ الله لا يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعَاً يَنْتَزِعُهُ من العِبادِ ولَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ حتَّى إذا لَمْ يُبْقِ عَالِمٌ اتَّخَذَ الناس رؤسَاً جُهَّالاً ، فَسُئِلوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا-البخاري

"Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak menggenggam ilmu dengan sekali pencabutan, mencabutnya dari para hamba-Nya. Namun Dia menggenggam ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga, jika tidak disisakan seorang ulama, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Maka mereka tersesat dan menyesatkan." (HR Al-Bukhari)

Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda:

وَمِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ العِلْمُ وَيُثْبتَ الجَهْلُ

"Sebagian tanda datangnya Hari Kiamat diangkatnya ilmu dan tinggallah kedunguan (kebodohan)."

Permisalan ulama di muka bumi seperti bintang yang ada di langit. Bintang dapat memberi petunjuk kepada orang yang berada di gelap malam, di daratan maupun di lautan. Jika bintang tak muncul, manusia tak mendapatkan petunjuk. Demikian sabda Nabi Muhammad SAW dalam satu hadisnya yang diriwayatkan Imam Ahmad.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Mujahid, bahwa makna yang dimaksud ialah meninggalnya ulamanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  menegaskan wafatnya para ulama ini adalah sebagai musibah. 

مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ 

Artinya: “Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama” (HR al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’) 

Wafatnya ulama merupakan hilangnya ilmu umat manusia. Bisa hidup bersama para ulama merupakan sebagian nikmat yang agung selama di dunia.  

Di sisi lain, wafatnya ulama juga memiliki dampak sangat besar, yakni munculnya pemimpin baru yang tidak mengerti tentang agama sehingga bisa menyesatkan umat, sebagaimana dalam hadits sahih yang berbunyi: 

إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من الناس ، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يترك عالما اتخذ الناس رءوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا 

Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hambanya, tetapi mencabut ilmu dengan mencabut para ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan satu ulama, maka manusia mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh, mereka ditanya kemudian memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan" (HR al-Bukhari No 100)
 

Topik
ulama wafat

Berita Lainnya