Perbaiki Media Pemasaran Kue Manco, Mahasiswa Universitas PGRI Madiun Gelar Pengmas | Nganjuk TIMES

Perbaiki Media Pemasaran Kue Manco, Mahasiswa Universitas PGRI Madiun Gelar Pengmas

Dec 19, 2020 11:30
Mahasiswa Unipma dalam pengabdian Masyarakat di Desa Tambakmas Kabupaten Madiun.
Mahasiswa Unipma dalam pengabdian Masyarakat di Desa Tambakmas Kabupaten Madiun.

Kue manco merupakan salah satu jajanan tradisional khas Madiun, sayangnya selama ini media pemasarannya masih tradisional. Pusat produksi kue manco ini terdapat di Desa Tambakmas, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun.

Jika dibandingkan dengan masa sekarang, kue manco kurang diketahui khususnya di kalangan para remaja. Oleh karena itu, hal ini menjadikan Mahasiswa Program studi Manejemen Universitas PGRI Madiun untuk memperkenalkan potensi kue manco tersebut dengan mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat (pengmas) di Desa Tambakmas, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun.

Baca Juga : Dorong Ketahanan Ekonomi Masyarakat, Dosen Unisba Blitar Gelar Pelatihan Migarium

 

Pengabdian masyarakat ini dilakukan selama dua bulan yaitu mulai bulan November hingga bulan Desember.

Dosen pembimbing pengmas, Arifiansyah Saputra menyampaikan tujuan kegiatan ini difokuskan pada cara mengembangkan dan memperbaiki media pemasaran kue manco yang rata-rata masih menggunakan cara konvensional.

Sementara itu, Nelly sebagai ketua kelompok dua menuturkan banyak dari pembuat jajanan khas ini tidak memahami cara memasarkan produk mereka agar lebih dikenal masyarakat luas untuk peningkatan pemasarannya.

“Banyak kalangan remaja yang enggak mengenal jajanan manco ini, kalaupun tahu seringnya hanya mengetahui bentuk dari manco tapi tidak begitu mengenal nama jajanannya. Oleh karena itu, kami berinisiatif untuk meningkatkan pemasaran dengan pembuatan katalog online di media sosial  agar lebih menarik khususnya di instagram dan juga pembuatan akun e-commerce," ujar Nelly.

Selain mengembangkan dan mengenalkan media pemasaran berbasis online, para mahasiswa kelompok 2 kelas 5D Prodi Manajemen UNIPMA Madiun juga turut membantu dalam memberikan pengarahan untuk alternatif jasa pengiriman dan melakukan kerja sama dengan pihak pengiriman.

Hal itu dikarenakan keluhan besarnya ongkos pengiriman yang tidak sepadan dibandingkan biaya ongkos produksi.

Baca Juga : FIFGROUP Gelar Program EXPLORE bagi Siswa Siswi Medan dan Semarang

“Seringnya biaya pengiriman yang lebih mahal dibanding biaya produksi manco yang akan dikirimkan, semisal harga jual Rp 200 ribu besar biaya  kirim mencapai Rp 200 ribu padahal masih satu pulau," jelas Suciati, pemilik usaha.

Walaupun kunjungan kegiatan Pengabdian Masyarakat dilakukan secara daring dan luring karena masih adanya pandemi, namun antusias dari para warga di sekitar sentra industri manco tersebut cukuplah hangat. 

Mereka berharap agar jajanan kue manco tidak hanya sekedar dikenal sebagai oleh oleh bagi masyarakat dari luar kota saja namun dapat menjadi kebanggaan jajanan khas dari Kabupaten Madiun.

Topik
Berita Madiun

Berita Lainnya