Gunung Bromo (Freepik)
Gunung Bromo (Freepik)

Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana dan Geologi (PVMBG) Pos Gunung Api (PGA) Cemorolawang mengingatkan pengunjung di sekitar kawasan wisata gunung Bromo tidak memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif, Selasa, (20/10/2020).

Peringatan tersebut disebabkan adanya potensi letusan Freatik di Gunung Bromo. Karena itu, pengelola wisata diminta melarang pengunjung dan warga mendekati kawah gunung Bromo.

Baca Juga : Temuan Bata Kuno di Karangploso Ditengarai Ada pada Kerajaan Singasari

Dilansir dari pengamatan web Magma Indonesia, Gunung Bromo sudah mengalami 1 kali gempa tremor menerus dengan amplitudo 0.5-1 mm, dengan dominan 1 mm. Dengan kondisi itu, status Gunung Bromo saat ini berada di level II atau waspada.

Dari laporan tersebut, diimbau untuk setiap wisatawan, warga sekitar bahkan pengelola untuk tidak mendekati dan harus mewaspadai terjadinya letusan Freatik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

Kapos PGA Cemorolawang, Wahyu Adrian mengharap agar tidak ada kemungkinan terburuk yang terjadi akibat status Gunung Bromo yang waspada ini. “Mudah-mudahan ga terjadi apa-apa, yang penting aktivitas terkini dan rekomendasi sudah disampaikan ke semua pihak," katanya.

Menurut Wahyu, rekomendasi tersebut sudah diinformasikan sejak (13/5/2020) lalu. Hingga kini pihaknya belum mencabut rekomendasi kewaspadaan tersebut, mengingat ada peningkatan jumlah suplai magma.

Selain itu, tingkat intensitas potensi gempa Gunung Bromo mengalami peningkatan. Pada Juli lalu, tercatat ada 8 kali gempa, bulan Agustus 10 kali dan September 11 kali. Dengan intensitas yang membahayakan tersebut, maka sangat tidak dianjurkan jika ada manusia di sekitar kawah Gunung Bromo.

Baca Juga : Diduga Berzina, Warga Satu Desa di Jombang Demo Tuntut Perangkat Desa Dipecat

 

"Karena mekanisme letusan Freatik adalah pelepasan gas yang terakumulasi dan membawa material dari pipa kepundan,maka letusan Freatik biasanya tidak memberikan tanda-tanda yang jelas sebelum erupsi, juga bisa terjadi sewaktu-waktu atau mendadak,” pungkas Wahyu.

Untuk diketahui, dikutip dari ilmugeografi.com, erupsi atau letusan Freatik terjadi ketika adanya air tanah, air laut, air danau kawah, atau air hujan yang menyentuh magma di dalam bumi. Panas dari magma akan membuat air tersebut menjadi uap, dan ketika tekanan uap sudah sangat tinggi dan tidak bisa dibendung, maka akan terjadi letusan yang disebut letusan Freatik. Pada erupsi Freatik, sumbernya uap air dan berasal dari air bawah tanah yang mengalami pemanasan intensif oleh sumber panas tertentu.