Para pendamping dari Linksos dan Kelompok Difabel dari Omah Difabel Lawang saat melakukan ekspedisi pendakian Gunung Wedon, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Kamis (10/9/2020). (Foto: Linksos for MalangTimes)
Para pendamping dari Linksos dan Kelompok Difabel dari Omah Difabel Lawang saat melakukan ekspedisi pendakian Gunung Wedon, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Kamis (10/9/2020). (Foto: Linksos for MalangTimes)

Olahraga hiking atau mendaki gunung bisa jadi pilihan aktivitas untuk menjaga imunitas di tengah kondisi pandemi Covid-19. Namun, aktivitas yang relatif mudah bagi banyak orang ini merupakan tantangan tersendiri bagi penyandang disabilitas.

Tetapi hal yang sulit bukan berarti tidak mungkin dilakukan. Seperti yang dilakukan teman-teman kelompok difabel dari Omah Difabel Lawang yang dibina oleh Lingkar Sosial (Linksos) Indonesia.

Baca Juga : Potensi Timbulkan Kegaduhan LSM Banyuwangi Tolak Ormas KAMI

 

Mereka melakukan pendakian Gunung Wedon yang berlokasi di wilayah Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Dengan berjalan kaki, mereka melakukan kegiatan menyusuri sungai, air terjun, bukit, lembah.

Ketua Pembina Linksos, Kertaning Tyas mengatakan bahwa di tengah pandemi Covid-19 ini kelompok difabel mengampanyekan tiga poin utama. Pertama olahraga murah, lalu hak rekreasi, dan juga bertujuan untuk menghapus stigma yang ada pada masyarakat.

"Tujuan dari pendakian ini, pertama terkait pandemi adalah kampanye kesehatan dengan berolahraga. Yang paling murah menurut kami jalan kaki," ungkap Pak Ken, sapaan akrabnya, Sabtu (12/9/2020).

Selain itu, Linksos bersama kelompok difabel juga mengampanyekan pentingnya hak untuk rekreasi bagi para kelompok difabel. Karena potensi destinasi wisata di Malang Raya sangat banyak sekali, akan tetapi masih saja terdapat destinasi wisata yang tidak mendukung kelompok difabel.

"Akan tetapi di sini (Malang) teman-teman difabel masih jarang bisa masuk, karena masalah aksesibilitas untuk itu," ujarnya.

Sedangkan yang paling terpenting disampaikan oleh Pak Ken bahwa kampanye penghapusan stigma yang ada pada masyarakat.

"Kampanye terpenting dalam kegiatan ini adalah kampanye hapus stigma. Karena selama ini, difabel masih dianggap sebagai beban, dianggap sebagai orang yang tidak mampu dan sebagainya," terangnya.

Dengan adanya berbagai kegiatan yang dilakukan oleh Linksos bersama kelompok difabel, pihaknya membuktikan bahwa kelompok difabel juga dapat melakukan apa yang dilakukan orang lain.

"Dengan adanya kegiatan selama ini bahwasannya ternyata difabel memiliki kemampuan yang sama dengan warga negara lainnya," ungkapnya.

Baca Juga : Ini Beda Air Gun yang Digunakan Pelaku Penembakan di ATM Kawi dengan Air Softgun

 

Sementara itu, ekspedisi pendakian yang terbaru dilakukan pada hari Kamis (10/9/2020) ke Gunung Wedon tersebut dilakukan oleh kelompok difabel penyandang tuna netra.

"Hari Kamis tanggal 10 di Gunung Wedon itu kebetulan pesertanya semuanya tuna netra," tutur Pak Ken.

Pak Ken pun mengatakan bahwa khusus untuk keanggotaan pendakian gunung tidak terbatas dengan kelompok difabel tertentu, melainkan pendakian ini terbuka untuk semua ragam disabilitas yang ada.

"Jadi di tim ini sudah lengkap, sudah ada tuna rungu (tuli), ada tuna netra, tuna daksa, disabilitas intelektual atau tuna grahita, hingga disabilitas mental," sebutnya.

Sebelumnya mendaki ke Gunung Wedon yang berada di Lawang, disampaikan oleh Pak Ken bahwa Linksos bersama kelompok difabel telah melakukan ekspedisi pendakian di Gunung Banyak Kota Batu dengan anggota yang turut serta dari beberapa macam kelompok difabel.

"Kemudian untuk air terjun, kita sudah menyusuri air terjun Coban Misteri Supit Urang, di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Juga menjelajahi perbukitan di Desa Srigading," ungkapnya.