Mau Ikut Tren Lari? Dokter Jantung Minta Pemula Jangan Langsung Kejar 5K

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

Dede Nana

04 - Aug - 2026, 10:40

Ilustrasi ikut event lari. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Tren lari semakin digemari masyarakat. Namun, di balik meningkatnya minat mengikuti ajang lari 5K hingga maraton, dokter jantung mengingatkan agar pemula tidak langsung memaksakan diri berolahraga dengan intensitas tinggi.

Dokter Spesialis Jantung Konsultan Kardiologi Intervensi, dr. Bobby Arfhan Anwan, SpJP(K), mengatakan jantung membutuhkan proses adaptasi. Karena itu, olahraga sebaiknya dimulai secara bertahap agar tetap aman bagi kesehatan.

Baca Juga : Semester I 2026 Gemilang, BPR Bank Daerah Lamongan Catat Laba Naik 30 Persen

Hal itu disampaikan dr Bobby saat menjadi bintang tamu dalam podcast bersama YouTuber Raditya Dika.

"Ini pertanyaan bagus Mas Radit, karena banyak yang FOMO ya, sekarang ada yang langsung lari 5K, 10K, bahkan Marathon ya. Dan langsung. Padahal itu bahaya Mas Radit," ujar dr Bobby.

Raditya Dika kemudian bertanya, "Oh tidak boleh langsung?"

"Tidak boleh, karena jantung itu sifatnya pembiasaan. Jadi buat teman-teman yang mulai ingin gaya hidup sehat, mulai lambat saja tapi konsisten," jawab dr Bobby.

Menurut dr Bobby, seseorang yang sebelumnya jarang berolahraga tidak perlu langsung menargetkan lari. Langkah pertama yang paling aman adalah membiasakan tubuh dengan berjalan kaki.

"Kalau tidak biasa jalan kaki, kita mulai jalan kaki rutin saja 30 menit dengan kecepatan yang santai. Belum ada target apa-apa, kalau memang belum pernah (jalan)," jelasnya.

Setelah tubuh mulai terbiasa selama sekitar dua hingga tiga bulan, intensitas olahraga bisa ditingkatkan secara bertahap.

"Kalau sudah biasa (jalan kaki) mungkin 2-3 bulan, diubah menjadi jalan cepat," katanya.

Dr Bobby menjelaskan, setelah sekitar enam bulan rutin melakukan jalan cepat, seseorang baru bisa mulai mencoba olahraga kardio yang lebih berat seperti jogging atau lari ringan.

"Nah setelah mungkin 6 bulan rutin jalan cepat, baru mulai kardio yang agak lebih intens. Seperti jogging atau lari," ujarnya.

Baca Juga : Tingkat Pendidikan Perempuan di Kota Batu Membaik, Lulusan SMA Ke Atas Tembus 46,88 Persen

Meski begitu, ia tetap mengingatkan agar olahraga dilakukan sesuai kemampuan tubuh dan tidak memaksakan diri hanya karena mengikuti tren.

"Tetap untuk kesehatan dan keamanan jantung, saya tidak menyarankan teman-teman yang baru mulai olahraga langsung intensitas berat seperti lari. Apalagi jarak jauh ya," tegasnya.

Bagi masyarakat yang berusia di atas 35 tahun, dr Bobby menyarankan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum mulai berolahraga dengan intensitas tinggi, terutama jika ingin mengikuti lomba lari.

"Apalagi kalau di usia seperti kita, masyarakat di 35 ke atas, 40-an, jangan coba-coba sebelum medical check-up," pesannya.

Tips Aman Memulai Lari untuk Pemula

Berdasarkan penjelasan dr Bobby, berikut tahapan yang disarankan agar olahraga tetap aman bagi jantung:

• Mulai dengan jalan kaki santai selama 30 menit secara rutin.
• Lakukan secara konsisten tanpa mengejar target jarak atau kecepatan.
• Setelah 2-3 bulan, tingkatkan menjadi jalan cepat.
• Setelah sekitar 6 bulan rutin, mulai mencoba jogging atau lari ringan.
• Hindari langsung mengikuti lari 5K, 10K, atau maraton jika belum terbiasa.
• Bagi usia 35 tahun ke atas, lakukan medical check-up sebelum memulai lari atau olahraga berat.

Menurut dr Bobby, membangun kebiasaan berolahraga secara bertahap jauh lebih penting dibanding memaksakan diri mengejar tren. Dengan proses adaptasi yang baik, kesehatan jantung tetap terjaga sekaligus mengurangi risiko cedera maupun gangguan kardiovaskular saat berolahraga. Semoga informasi ini bermanfaat.