Iran Pasang Tol Bitcoin di Selat Hormuz, Kapal Bermuatan Minyak Wajib Bayar Segini
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
A Yahya
10 - Apr - 2026, 03:49
JATIMTIMES - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi sorotan. Pemerintah Iran kini mulai memberlakukan tarif tol bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia.
Yang menarik, pembayaran tol tersebut tidak dilakukan melalui sistem perbankan biasa, melainkan menggunakan aset kripto seperti Bitcoin. Kebijakan ini mulai diterapkan selama masa gencatan senjata dua pekan dengan Amerika Serikat (AS).
Besaran tarif yang dikenakan setara US$ 1 per barel minyak yang diangkut kapal. Jika dikonversi ke rupiah dengan kurs sekitar Rp 17.122 per dolar AS, nilainya setara Rp 17.122 per barel.
Artinya, untuk kapal tanker yang mengangkut sekitar 2 juta barel minyak, biaya yang harus dibayarkan bisa mencapai US$ 2 juta atau sekitar Rp 34,2 miliar.
Juru bicara Serikat Eksportir Minyak, Gas, dan Produk Petrokimia Iran, Hamid Hosseini, menjelaskan bahwa setiap kapal yang hendak melintas wajib melapor terlebih dahulu kepada otoritas Iran.
Prosedurnya dimulai dengan pengiriman email berisi detail muatan kapal. Setelah itu, pihak Iran akan melakukan penilaian atas jenis barang yang dibawa sebelum menentukan nominal tarif yang harus dibayar.
“Begitu email tiba dan Iran menyelesaikan penilaiannya, kapal-kapal diberi waktu beberapa detik untuk membayar dengan bitcoin, untuk memastikan mereka tidak dapat dilacak atau disita karena sanksi,” kata Hosseini, dikutip Arkham, Jumat (10/4/2026).
Skema pembayaran dalam hitungan detik ini disebut menjadi bagian dari strategi Iran untuk menghindari pelacakan transaksi internasional akibat sanksi ekonomi dari AS dan sekutunya.
Menurut Hosseini, pemeriksaan ini juga bertujuan memastikan tidak ada pengiriman senjata yang melintasi jalur strategis tersebut selama masa gencatan senjata.
Namun, untuk komoditas lain, termasuk minyak mentah dan produk turunannya, tetap diizinkan melintas setelah melalui prosedur. “Semua barang bisa lewat, tetapi prosedurnya akan memakan waktu untuk setiap kapal, dan Iran tidak terburu-buru,” jelasnya.
Baca Juga : Untari DPRD Jatim: Pemenuhan Hak Disabilitas Bukan hanya Tanggung Jawab Dinsos
Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia. Sekitar 20–25 persen pasokan minyak dunia dikirim melalui jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.
Karena itu, setiap gangguan di kawasan ini hampir selalu langsung memengaruhi harga minyak global. Sejak konflik Iran dengan AS dan Israel memanas pada akhir Februari lalu, Iran secara efektif memperketat akses di selat tersebut. Langkah itu sempat memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia.
Bahkan, badan maritim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai wacana pungutan tol di Selat Hormuz sebagai preseden berbahaya yang berpotensi melanggar prinsip kebebasan navigasi internasional.
Kebijakan tol kripto ini diperkirakan bakal menambah beban biaya logistik global, terutama untuk perusahaan pelayaran dan industri energi.
Beban tambahan hingga jutaan dolar per kapal berpotensi membuat biaya distribusi minyak melonjak, yang pada akhirnya bisa berdampak pada harga BBM dan tiket transportasi di banyak negara.
Dengan kata lain, keputusan Iran ini tidak hanya berdampak regional, tetapi juga bisa mengguncang ekonomi global apabila berlangsung lebih lama.
