Mujahadah Kubro Satu Abad NU, Doa dari Malang untuk Bangsa hingga Palestina
Reporter
Irsya Richa
Editor
Nurlayla Ratri
08 - Feb - 2026, 11:27
JATIMTIMES - Suasana religius menyelimuti Kota Malang saat ratusan ribu warga Nahdlatul Ulama (NU) berkumpul dalam Mujahadah Kubro memperingati satu abad organisasi Islam terbesar di dunia tersebut di Stadion Gajayana, Minggu (8/2/2026). Lebih dari sekadar perayaan, momentum ini menjadi ruang konsolidasi spiritual warga NU untuk bangsa, sekaligus doa bersama bagi perdamaian dunia.
Di tengah lautan jamaah yang memadati lokasi kegiatan, Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menegaskan bahwa perjalanan satu abad NU bukan hanya catatan sejarah organisasi, melainkan bukti kekuatan nilai keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan yang terus dijaga hingga kini.
“Kita bisa berkumpul di tempat ini untuk mensyukuri perjalanan Nahdlatul Ulama yang sudah berusia satu abad sesuai perhitungan kalender Masehi,” ucap Gus Kikin di hadapan jamaah serta Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Ia menyoroti besarnya pengorbanan warga NU dari berbagai daerah yang tetap berangkat dengan penuh keikhlasan demi mengikuti mujahadah tersebut, meski sempat dihadapkan pada cuaca kurang bersahabat. Hujan yang mengguyur Kota Malang pada tengah malam tidak menyurutkan langkah para jamaah untuk tetap hadir dalam momentum bersejarah itu.
“Terima kasih kepada seluruh warga NU se-Jawa Timur yang telah hadir bersusah payah dengan segala ikhtiar, dengan lelehan keringat, tenaga, dan biaya dengan penuh keikhlasan dan tiba di Kota Malang yang indah ini,” tambahnya.
Menurutnya, mujahadah menjadi simbol kuatnya ikatan batin warga NU dalam menjawab seruan para ulama sekaligus memperkuat persatuan umat. Dengan jumlah anggota yang mencapai lebih dari 100 juta orang, NU dinilai memegang peran strategis dalam menjaga stabilitas sosial dan keutuhan bangsa.
“Ini merupakan anugerah sekaligus amanah yang harus dijaga dan dijalankan dengan kerja keras,” tegas Gus Kikin.
Memasuki abad kedua, Gus Kikin menilai tantangan NU semakin kompleks. Organisasi ini dituntut tetap menjaga tradisi keagamaan sekaligus mampu menjawab dinamika zaman tanpa meninggalkan nilai dasar pendirinya.
“Kami menyadari memasuki abad ke-2 NU menjalankan peran sebagai penjaga tradisi dan peneguh NKRI bukan hal ringan,” kata Gus Kikin.
Baca Juga : Nabi Musa AS Pernah Memohon Nyawanya Dicabut di Palestina
Ia mengingatkan kembali pesan Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari tentang pentingnya menjadikan NU sebagai organisasi yang berdiri di atas nilai keadilan, perdamaian, dan kebaikan. “Organisasi ini terasa manis bagi orang yang baik, tapi terasa sesak di tenggorokan orang yang jahat,” jelas Gus Kikin mengutip dawuh pendiri NU.
Sementara itu, Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar menekankan bahwa kekuatan doa menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan bangsa. Ia mengajak jamaah menjadikan mujahadah sebagai momentum memohon keselamatan bagi Indonesia dan dunia.
“Dalam melaksanakan tugas kenegaraan, semoga dengan sikap tegas dan kesetiaan mendampingi umat, rakyat Indonesia dimudahkan oleh Allah,” katanya.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengajak jamaah memanjatkan doa bagi masyarakat dunia yang tengah dilanda konflik dan bencana, termasuk rakyat Palestina.
“Sebagai solusi untuk lepas dari segala hal yang tidak menyenangkan, seperti musibah yang sedang melanda saudara kita, termasuk saudara kita di Palestina, semoga semuanya mendapatkan yang terbaik. Al-Fatihah,” ucapnya.
